Rabu, 21 September 2011

apakah

Barangsiapa memusuhi orang yang di bawahnya, hilang kewibawaannya.

Hidup biarlah berbakti, walaupun tidak dipuji

Seorang boleh menipu seseorang sekali-sekala tetapi orang yang sama tidak boleh menipu semua orang pada masa yang sama

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam di atas batu yang hitam di malam yang amat kelam. Ianya wujud tapi amat sukar dilihat.

Kamu dapat mengenal lebih banyak tentang diri seseorang itu dari adab dan pertanyaannya, bukan dari jawapan-jawapannya -Voltaire

Setiap orang dapat mencapai kejayaan dalam hal apa saja, asalkan ia sangat menyukai pekerjaan yang dilakukan.

Hari ini bila ia datang, jangan biarkan ia berlalu pergi. Esok kalau ia masih bertandang, jangan harap ia akan datang kembali

Lebih baik tidur dengan perut yang lapar daripada bangun tidur dengan banyak hutang -Anonim

Orang cerdik yang mengenal dunia, terungkap baginya musuh yang berbaju kawan.

Pengumpul harta belum tentu memanfaatkannya, dan yang memanfaatkan harta belum tentu yang mengumpulkannya.

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.

Jangan abaikan permintaan orang, kalau tidak mahu permintaan kamu diabaikan orang.

Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat. -Pepatah Arab

Barangsiapa membawa berita tentang orang lain kepadamu, maka dia akan membawa berita tentang dirimu kepada orang lain.

Nikmat itu kadang-kadang tidak disedari, hanya apabila ia telah hilang barulah manusia benar-benar terasa

Emas diuji dengan api, wanita diuji dengan emas dan lelaki diuji dengan wanita.

[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Orang yang berbohong itu sentiasa ingin melarikan diri sedangkan tiada seorang pun yang mengejarnya namun orang yang benar itu berani seperti singa -Goethe

Mengetahui sesuatu dan memahami segala sesuatu adalah lebih baik daripada mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak memahami sesuatu.

Kawan sejati ialah orang yang mencintaimu meskipun telah mengenalmu dengan sebenar-benarnya iaitu baik dan burukmu.

Sabar adalah jalan keluar bagi orang yang tidak bisa menemukan jalan keluar.

Kepala yang tidak mempunyai fikiran sama halnya dengan sesebuah benteng yang tidak dibela -Napoleon Bonaparte

Jika dunia ini persinggahan, mengapa tidak kita banyakkan bekalan untuk meneruskan perjalanan? Kerana kita cuma ada satu persinggahan.

Apabila bicara itu perak, diam adalah emas.

Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, kerana engkau dipandang manusia bukan kerana rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW

Setiap yang kita lakukan biarlah jujur kerana kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang.

Menghairankan sekali, orang yang mencuci wajahnya berkali-kali dalam sehari, tetapi tidak mencuci hatinya walaupun sekali setahun.

Barangsiapa menyebarluaskan berita-berita kekejian yang didengarnya, maka dia seperti pelakunya.

Keikhlasan mempunyai kilauan dan sinar, meskipun ribuan mata tidak melihatnya.

Jangan tertarik kepada seseorang kerna parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya kerna kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, kerna hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.

Jangan memberi makanan kepada orang lain yang anda sendiri tidak suka memakannya.

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahawa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Musibah dalam harta lebih ringan daripada musibah dalam kehormatan.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika bertemu seseorang yang sangat bererti dan mendapati pada akhirnya bahawa tidak demikian adanya dan harus melepaskannya pergi.
[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Quote:
Beritahukan kepadaku apa bacaan-bacaanmu, nescaya aku akan beritahu siapa diri kamu ini.

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

Hidup tanpa pegangan ibarat buih-buih sabun. Bila-bila masa ia akan pecah.

Keutamaan akal ialah hikmah kebijaksanaan, dan keutamaan hati ialah keberanian.

Barangsiapa yang hari ini sama dengan kelmarin, maka tertipulah dia, dan barangsiapa hari ini lebih jahat dari kelmarin, maka terkutuklah dia.

Hidup ini bukanlah suatu jalan yang datar dan ditaburi bunga melainkan adakalanya disirami airmata dan juga darah. ~ Hamka

Kehidupan ini tidak menjanjikan kebahagiaan sepanjang masa. Kadang kala manusia diasak dengan pelbagai dugaan dan ujian. Sekiranya lemah, kita akan terus hanyut mengikut kata hati dan tidak berusaha mencari penyelesaian untuk menyelamatkan diri dan keadaan.

Hidup di dunia ini tidak ubah seperti seorang musafir yang sedang bernaung di bawah sebatang pohon yang sebentar kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut.

Kehidupan itu adalah suatu nikmat bagi orang yang menghargai dan menyedarinya.

Hidup ini bukanlah seperti habuk yang berterbangan oleh angin. Hidup kita bukan tiada maknanya. Setiap kita mempunyai misi yang besar di dunia ini. Setiap kita! Bukan cuma segolongan manusia, atau sekumpulan orang. Selagi kita bernafas, selagi kita tidak ditalkinkan atau dikuburkan hidup kita mempunyai misi.

Ramai orang melalui hidup ini tanpa mengerti betapa pentingnya mereka kepada umat sejagat. Lalu apabila sesuatu musibah menimpa, mereka mengambil jalan untuk memusnahkan diri kerana tidak sanggup menanggung hebatnya dugaan.

Ingatlah tidak ada arang batu yang menjadi intan tanpa melalui tekanan demi tekanan. Hidup yang melalui kesukaran dan dugaan adalah untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih memahami orang lain. Cuma hati yang pernah dilapah yang boleh merasa besarnya erti kasih dan sayang sesama manusia.

Kita mempunyai hak dan kemampuan untuk mengemudikan sendiri hidup kita. Jika mahu berjaya dan bergembira kita mestilah mengikut corak, pemikiran, sikap, perangai dan pegangan orang yang berjaya.

Cara paling baik tuk menghindari rasa kecewa adalah berhenti terlalu berharap dan persiapkan diri tuk menerima apa adanya.

Jangan habiskan waktumu tuk memikirkan apa yg telah hilang di masa lalu. Hidup ini melangkah ke depan, bukan ke belakang. MOVE ON!
[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Quote:
Jangan biarkan kegagalan buatmu takut tuk mencoba. Ingatlah, tuk tahu apa itu bangkit, kamu harus tahu seperti apa rasanya jatuh.

Dalam hidup, Tuhan selalu berikan yg terbaik untukmu, mungkin bukan terbaik yg kamu mau, tapi pasti terbaik yg kamu butuh.

Ketika kamu merasa kamu tak bahagia dengan hidupmu, ingatlah, bahwa ada seseorang yg bahagia hanya karena kamu ada.

Meminta maaf adl bukti rasa cinta & hormat thd org lain. Memaafkan adl bukti rasa cinta & hormat thd diri sendiri.

Jika kamu terlalu mendengarkan apa yang orang katakan tentangmu, kamu tidak akan menjadi dirimu sesungguhnya.

Jangan berjanji jika tak bisa menepati. Janji yg diingkari akan membuat kecewa. Jika hati ikut terluka, tak akan ada lagi tawa.

Saat marah, perhatikan seorg pria dr apa yg diucapkannya & seorg wanita dr apa yg tdk diucapkannya.

Cara terbaik tuk melupakan masa lalu adalah bukan dengan menghindari atau menyesalinya, namun dengan menerima dan memaafkanya.

Cinta tak pernah salah. Pun ketulusan tak pernah sia-sia. Hanya ego manusia yang membuat cinta dan ketulusan terkesan tak berarti.

Ketika kamu mempercayai seseorang, kamu akan sangat rapuh, tapi jika kamu tak mampu percaya, kamu tak akan bisa menemukan cinta.

Ketika seseorang membencimu, janganlah kamu balas membencinya. Mereka membencimu hanya karena mereka tak bisa jadi seperti kamu.

Persahabatan yang didasari oleh keikhlasan dan kasih sayang, akan melahirkan keabadian dalam kebersamaan.

Lebih baik disakiti dengan kejujuran daripada harus dibahagiakan dengan kebohongan. Tertanda

Aku harap kamu bisa membaca pikiranku, disana semua tentangmu. Tertanda,

Persahabatan adalah hubungan pertemanan yg istimewa. Kita jadi istimewa karena bersahabat. Sahabatlah yg mengistimewakan kita.

Sahabat mungkin tak selalu ada ketika kamu tengah bahagia, tapi selalu ada untukmu ketika kamu tengah terluka.

Cintailah mereka yang pernah menyakitimu, namun jangan pernah menyakiti mereka yang sangat mencintaimu.
[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Quote:
Cinta sejati tak datang begitu saja. Banyak proses yg akan dilalui.Cinta akan terus tumbuh seiring dengan nangis dan tawa bersama.

Doaku hari ini: Tuhan, beri aku kesabaran dan kekuatan dalam menjalani kehidupan, agar selalu bisa melewati setiap ujian dariMu.

Setiap pria pantas mendapatkan seorang wanita yang dapat bersyukur pada saat terbaiknya & berdoa pada saat terburuknya.

Jika kamu ingin melupakan seseorang, kamu harus biarkan orang lain membantumu. Percaya, akan ada orang yang mencintaimu lebih baik.

Ketika dia terus buatmu terluka, ingatlah: rasa sakit karena bertahan lebih besar daripada rasa sakit jika kamu melepaskan.

Ketika ada yang salah dari apa yang kamu lihat, mungkin kesalahannya adalah caramu melihatnya.

Aku tak takut tuk kembali jatuh cinta, aku hanya takut terluka tuk alasan yg sama.

Setiap wanita pantas mendapat pria yang akan memujinya di hadapan wanita lain, bukan memuji wanita lain di hadapannya

Menyakitkan ketika seseorang tak bisa melepasmu, bukan karena dia cinta, tapi karena dia tahu kamu selalu ada ketika dia butuh.

Jika kamu tulus mencintai, cintamu tak pernah mati, meski dia telah pergi. Kamu hanya terbiasa hidup tanpanya di sisi.

Ketika kamu merasa kesepian, sadarilah bahwa ada seseorang yang berharap bangun setiap hari hanya untuk punya kesempatan melihatmu.

Kamu akan lebih mudah bahagia jika kamu bisa menerima kekuranganmu daripada mencari bahagia dengan berusaha menjadi yg sempurna.

Jangan sesali masa lalumu. Jika kamu pernah bahagia dengan dia yg salah, bayangkan jika kamu temukan dia yg tepat.

Menghindar tak selalu berarti kamu membencinya. Kadang itu berarti kamu menginginkannya tapi kamu tahu bahwa itu buatmu terluka.

Jangan pernah biarkan dirimu diperlakukan bukan siapa-siapa oleh seseorang yang kamu perlakukan segalanya.

Kadang lebih baik diam daripada menjelaskan perasaanmu, karena menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tak bisa mengerti.

Jangan remehkan dirimu sendiri. Percayalah, kamu terlahir tuk sebuah alasan, untuk memberi harapan kepada seseorang.
[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Quote:
Berhenti mengejar seseorang yg kamu pikir pantas kamu dapatkan. Lebih baik persiap dirimu tuk seseorang yg memang pantas untukmu.

Kamu tak akn bisa melupakan seseorng yg pernah sangat kamu cintai, kecuali kamu mau belajar tuk mencintai seseorang yg lain.

Tindakan yg tepat di saat ini adalah permintaan maaf yg terbaik yg bisa kamu berikan tuk tindakan yg salah di masa lalu.

Agar bisa bahagia, jangan hanya mencari hal2 yang bisa buatmu bahagia, tapi juga temukan hal2 yang membuatmu sedih dan berhenti melakukannya.

Dalam hidup, kamu tak bisa menghindari rasa sakit, tapi kamu bisa memilih apakah sakit itu mendewasakanmu atau buatmu terpuruk.

Terkadang kamu harus berpura-pura bahagia dan baik-baik saja. Hingga kamu menyadari bahwa hal itu jadi kekuatanmu untuk melangkah.

Kadang kamu harus mendengarkan mereka yang lebih tua, bukan karena mereka selalu benar, tapi mereka lebih banyak tahu mana yang salah.

Ladies, berhentilah menjadi yg kedua dalam hidup seseorang, padahal kamu cukup baik untuk menjadi yang pertama dalam hidup yang lain.

Di masa yg baik maupun buruk, seorang sahabat akan selalu berada di sisimu. That's what friends are for.

Terus memikirkan apa yg terjadi di masa lalu hanya membuat kamu tak menyadari bahwa semua yg terjadi adalah tuk kebaikanmu.

Jika hidup ini mudah, kamu tak akan mikir tiap malam berusaha mencari tahu mengapa kamu masih jomblo hingga saat ini

Syukurilah apa yg ada, bukan apa yg akan ada, carilah apa yg buatmu bahagia, bukan yg mungkin buatmu bahagia.

Kesempatan tak selalu datang dua kali, lebih baik bertindak cepat & salah daripada ragu hingga menyesali kesempatan telah berlalu.

Hidup itu susah, tapi kamu tidak sendiri. Banyak yang lebih buruk darimu, tapi mereka bisa bertahan.

Belajarlah dari masa lalu tuk memperoleh pelajaran untuk hari ini, dan dari pelajaran hari ini untuk hidup yang lebih baik di masa depan.

Jangan pernah lari dari masalah, mereka akan selalu mengikutimu. Hadapilah, mereka akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat.

Seberat apapun masalah yg kamu hadapi saat ini, selama kamu masih bernafas, kamu punya alasan tuk tersenyum.
[Kata Kata Mutiara Kehidupan Cinta]

Quote:
Doaku hari ini: Tuhan, terima kasih karena aku masih bisa melihat indahnya pagi. Beri aku kekuatan untuk bisa menjalani hari ini.

Menghindari masalah yg harus kamu hadapi itu seperti menghindari kehidupan yg harus kamu jalani.

Terkadang kamu harus DIAM, menerima bahwa kamu berbuat SALAH. Bukan karena MENYERAH, tapi karena kamu DEWASA.

Sebagian besar orang tak tahu bagaimana BERBAGI karena mereka tak pernah mengerti mengapa orang MEMBERI.

Tidak peduli seberapa baik kita, kita tidak bisa bergantung pada diri sendiri. Kita selalu membutuhkan Tuhan, itu saja.

Sekarang adalah waktunya untuk bertindak . tidak pernah ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu

Untuk meraih sukses, kita perlu motivasi kuat! Namun untuk bahagia, kita bisa menikmatinya justru saat istirahat & bersyukur

Kepintaran seseorang bkn diukur drsebarapa banyak ќαмϋ mendapatkan piala tp dr sebrapa byk ќαмϋ membagi ilmu yg ќαмϋ punya

jangan pernah membohongi perasaan kamu sendiri, jika kamu nggak mau menyesal dan tersiksa nantinya

"Jika masalah datang, tenangkan pikiran. Tak perlu memaksakan mengambil keputusan saat pikiran sedang kusut"

Aku Mencintaimu Karena aku meyakini didalam hatimu slalu tersimpan kebahagiaan buatku.

Jangan harap sesuatu yang luar biasa, kalau cuma mau melakukan yg biasa-biasa

Seorang Pemenang memiliki karakter yg keras kepala kepada tujuan, tetapi fleksibel terhadap cara.

Laki-laki itu ibarat bank. Tanpa uang yang banyak, mereka tidak menghasilkan bunga (daya tarik)

Jika engkau Menyerahkan segala keraguanmu Pada Tuhan , maka Tuhan akan memberikanmu Kedamaian

Jumat, 16 September 2011

lima hak al quran


“Ki, bukankah Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita ki?” Tanya Maula.
“Benar Nak Mas, bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘tidak ada keraguan di dalamnya’ sebagai petunjuk orang-orang mutaqin.” Jawab Ki Bijak, sambil mengutip ayat Al-Qur’an.
"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."(QS. Al-Baqarah [2] : 2)
“Lalu kenapa masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi masih banyak di antara kita yang masih kelimpungan mencari petunjuk lain selain Al-Qur’an, apanya yang salah ki?” Tanya Maula.
“Tidak ada yang salah bagi kita yang rajin dan pandai membaca Al-Qur’an, dan jika kita belum menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk, itu karena kita belum menunaikan hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Hak-hak Al-Qur’an ki?” Tanya Maula
“Benar Nak Mas, kadang kita terlalu sibuk menuntut Al-Qur’an sebagai ini dan itu, sementara hak-nya tidak pernah kita hiraukan.”
“Al-Qur’an juga mempunyai hak atas kita, yang jika hak-hak Al-Qur’an itu kita tunaikan, insya Allah, kita akan benar-benar mendapati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an akan menjadi rahmat dan pemberi syafaat bagi kita di yaumil akhir nanti.” Sambung Ki Bijak.
“Apa saja hak-hak Al-Qur’an atas kita ki?” Tanya Maula.
“Setidaknya ada lima hak Al-Qur’an yang harus kita tunaikan, yang pertama, hak Al-Qur’an atas kita adalah dibaca sesuai dengan ketentuan tajwid dan mahroj-nya.” Kata Ki Bijak.
“Alhamdulillah, kalau sekarang ini banyak metode pembelajaran Al qu’ran yang bagus, yang bisa dengan cepat mengajar kita untuk bisa baca Al-Qur’an, hanya kadang sebagian kita kurang terlalu peduli dengan kaidah-kaidah baca Al-Qur’an yang benar, sehingga keagungan bacaan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, menjadi kurang tampak, dan bahkan bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an tidak lebih penting dari membaca koran, ini yang harus kita perbaiki, sebagai salah satu langkah kita untuk memenuhi hak Al-Qur’an atas kita, baca Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.” Kata Ki Bijak.
“Lalu hak Al-Qur’an yang kedua atas kita apa ki?” Tanya Maula.
“Setelah kita bisa membaca Al-Qur’an, maka akan timbul hak Al-Qur’an yang kedua, yaitu memahami artinya, baik arti secara harfiah, maupun arti maknawi (tafsir)-nya.” Kata Ki Bijak.
“Nak Mas masih ingat, apa saja yang terkandung dalam Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.
“Ya ki, secara garis besar, Al-Qur’an mengandung pelajaran ketauhidan, kisah-kisah bangsa terdahulu serta hukum-hukum atau syari’at.” Jawab Maula,
“Karenanya, kita harus benar-benar memahami apa arti bacaan Al-Qur’an, agar kita bisa melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an serta menjauhi apa yang dilarang Allah seperti tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,”
“Atau bagaimana mungkin kita bisa menjadikan kisah-kisah bangsa terdahulu yang diterangkan Al-Qur’an sementara kita tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Qur’an? untuk itulah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah mengerti dan memahami arti dan maknanya.” Kata Ki Bijak.
Maula manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya, “Yang ketiga ki?” Tanyanya kemudian.
“Hak Al-Qur’an yang ketiga adalah dihapal.” Kata Ki Bijak.
“Nak Mas masih ingat dengan hadits yang menunjukan keistimewaan orang yang hapal Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.
“Ya ki, dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qur’an-nya’,”
“Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW, ‘Berapa banyak Al-Qur’an yang telah engkau hapal, hai fulan?’ ia menjawab, ‘aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.’ Rasulullah SAW kembali bertanya, ‘Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?’ Ia menjawab, ‘Betul.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!’.” Kata Maula mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmizi.
“Benar Nak Mas, itu salah satunya, dan masih banyak lagi hadits yang menyatakan betapa orang yang di dalam dadanya hapal Al-Qur’an, mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya, seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata, “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,” kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta, “Wahai Tuhanku tambahkanlah,” maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi, “Wahai Tuhanku, ridhailah dia,” maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, “bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga),” dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nimat dan kebaikan’.” Kata Ki Bijak.
“Selanjutnya, Al-Qur’an mempunyai hak atas kita untuk diamalkan, bacaan yang bagus, pemahaman arti yang baik, dan hapalan yang banyak, tidak boleh lantas menjadikan kita bangga diri, karena bacaan, arti dan hapalan yang tidak disertai dengan pengamalan yang baik dan benar, laksana pohon rindang tanpa buah, tak banyak memberikan manfaat pada orang yang memilikinya.” Kata Ki Bijak.
“Bahkan menurut hemat Aki, pengamalan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Qur’an merupakan hal terpenting dalam upaya kita memenuhi hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak lagi.
“Ki, kalau ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an bagaimana ki?” Tanya Maula.
“Benar, ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an meski ia tidak bisa membacanya, tapi itu sama sekali tidak berarti menggugurkan kewajibannya untuk belajar membaca Al-Qur’an, belajar memahami artinya, belajar menghapalnya, karena kewajiban tetaplah kewajiban, yang harus ditunaikan, dan insya Allah, mereka yang sudah melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an sebelum bisa membacanya, akan menjadi lebih baik lagi pengamalan Al-Qur’anya kalau ditambah dengan membaca, mengerti dan menghapal Al-Qur’an dengan baik.” kata Ki Bijak.
“Selanjutnya, mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan sebuah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita laksanakan, ajarkan apa yang kita mampu, walaupun hanya satu ayat.” Kata Ki Bijak.
“Buah yang matang dan ranum, tidak akan dapat dirasakan manis dan nikmatnya jika hanya dibiarkan menggantung diketinggian pohonnya, untuk itu, buah itu harus kita petik dan kita sampaikan, agar orang lain bisa menikmati manis dan lezatnya buah yang kita hasilkan.” Kata Ki Bijak.
“Ki, setelah mendengar penjelasan Aki tadi, ana merasa, ana masih punya banyak ‘hutang’ terhadap Al-Qur’an ki, bacaan Al-Qur’an ana masih banyak kurangnya, pemahaman ana terhadap Al-Qur’anpun masih sedemikian dangkal, apalagi menghapal dan mengamalkannya, ana merasa masih sangat-sangat jauh ki.” Kata Maula.
“Aki-pun demikian Nak Mas, masih banyak hak-hak Al-Qur’an yang belum bisa Aki penuhi seluruhnya, tapi setidaknya mulai sekarang, marilah kita kembali buka dan pelajari lagi Al-Qur’an, agar kita tidak termasuk orang yang dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.” kata Ki Bijak merendah.
“Ki, adakah kiat yang bisa ana pakai untuk bisa belajar Al-Qur’an dengan benar ki.” Tanya Maula.
“Setiap orang, memiliki cara dan kekhususan tersendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, setiap orang mungkin berbeda cara belajarnya, namun setidaknya kita harus memiliki beberapa hal mendasar sebagai modal kita untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Apa saja modal dasar itu, ki?” Tanya Maula.
“Pertama, Niat dan komitmen yang kuat, niatkan belajar kita lillahi ta’ala, hanya semata karena mengharap ridha-Nya, kemudian, tanamkan dalam diri kita sebuah komitmen yang tinggi untuk benar-benar belajar dan mempelajari Al-Qur’an.”
“Kedua, tanamkan selalu sifat rendah hati, sifat tawadlu, agar kita tidak cepat merasa bosan atau cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari.”
“Ketiga, belajarlah terus menerus dengan penuh kesungguhan.”
“Keempat, amalkan apa yang sudah kita pelajari, misalkan kita sudah belajar baca bismillah, pahami apa arti dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian amalkan dalam keseharian kita, bahwa tidak ada satupun aktivitas kita yang lepas dari memohon pertologan kepada Allah, yaitu dengan membaca Bismilllah.”
“Selanjutnya, untuk membantu proses belajar kita, ajarkan apa yang sudah kita pahami, proses ini akan membantu ingatan kita terhadap apa yang telah kita dapat, dengan mengajarkan, secara otomatis kita selalu mengulang-ulang pelajaran yang sama, sehingga tingkat pemahaman dan belajar kita insya Allah menjadi lebih baik.”
“Kemudian, kalau lima proses diatas sudah kita lakukan dengan benar, maka kita akan memiliki karakter.” kata Ki Bijak
“Apa cirinya kita sudah memiliki karakter ki?” Tanya Maula
“Cirinya, kita akan merasa rugi kalau sehari saja kita tidak baca Al-Qur’an,kita akan merasa kehilangan, kalau sehari saja kita tidak buka Al-Qur’an, atau kita akan merasa bersedih karena kehilangan momentun belajar Al-Qur’an, setiap hari, setiap saat dan setiap detik, orang yang memiliki karakter ini akan menunjukan semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.
“Alangkah bahagianya mereka yang sudah memiliki karakter seperti itu ya ki.” Kata Maula.
“Ya, berbahagialah orang yang memiliki karakter positif seperti itu, sebaliknya kita mesti berhati-hati kalau justru karakter negatif secara tidak sengaja menempel pada diri kita.” Kata Ki Bijak.
“Contohnya apa ki?” Tanya Maula.
“Menunda waktu shalat, kadang juga merupakan menjadi ciri atau karakter seseorang, sehingga kalau ia shalat tepat waktu, malah merasa rugi dan terganggu.”
“Kemudian lagi kebiasaan mencela, juga bisa jadi karakter seseorang, sehingga kalau belum mencela, rasanya gatal, dan lain sebagainya.” Kata Ki Bijak memperingatkan Maula untuk berhati-hati.
“Ya ki, semoga ana bisa memiliki karakter positif dan semoga pula ana terhindar dari karakter negatif tadi ya ki.” Kata Maula.
“Semoga Nak Mas.” Kata Ki Bijak.

syahadah cinta


Senja ini, di antara syahdu angin laut yang bernyanyi. Seirama dengan tarian ombak yang menggulung-gulung memecah pantai. Menyusuri buti-butir pasir yang kemilau oleh mentari yang mengintip malu dibalik tirai senja. Diiringi panorama burung-burung yang meliuk-liuk indah di angkasa. Tenang, damai, mendengar alam bernyanyi layaknya vokal grup yang saling melengkapi. Subhanallah. Maha Suci Allah yang menciptakan alam sedemikian indah ini. Dan aku seakan-akan mendengar mereka semua melantunkan Surat Ar-Rahman berbisik ditelingaku
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya Kemudian bertemu, Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang Tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55] : 16-25)
Aku berdiri di tepian pantai. Mataku tajam menatap lautan yang membentang luas. Jiwaku jadi kerdil. Betapa kecilnya diri ini jika dibandingkan makhlukNya yang lain. Apa lagi jika dibanding dengan Dia yang menciptakan ini semua. Allahuakbar! Maha Besar Allah dengan semua ciptaanNya.
Kilau mentari yang menghiasi langit senja ini semakin indah dan semakin meninggalkan hari. Rasanya ingin berlama-lama di bibir pantai ini. Mentafakuri dan menikmati ciptaanNya yang jarang sekali aku lihat kecuali ketika aku pulang ke Lampung.
“Gie...!!!” Teriak seseorang dari arah belakangku yang sangat aku kenal.
Endi namanya. Dia sahabat dekatku. Dia yang pertama kali mengajakku ke pantai ini ketika aku pulang setahun yang lalu.
“Ya...!”
“Sudah jam 5 lewat ¼, balik yu!”
Aku hanya tersenyum menatapnya. Dia datang menghampiriku dan merangkul pundakku dengan akrab.
“Sudahlah! Allah pasti punya rencana indah buatmu.”
“Aku percaya itu. Tapi...”
“Tapi apa? Aku nggak mengenal Gie sahabatku yang mudah lemah seperti ini. Aku kenal Gie seperti dia menatap setitik perahu yang jauh di lautan luas sana.” Sambil tangannya menunjuk kearah perahu di tengah lautan. “Gie yang fokus pada mimpi dan tujuan-tujuan besarnya. Kamu bukan Gie yang runtuh semangatnya hanya karena satu benturan. Perkara jodoh, Allah berjanji akan memberikan yang baik buat hamba-hambaNya yang baik. Jadi ikhtiarmu dalam mencari bidadarimu itu, hanyalah dengan terus berupaya memperbaiki diri kawan.” Jawabnya tegas berupaya mengingatkanku.
“Hemm... benar Ndi. Mungkin memang belum saatnya aku untuk menikah dalam waktu dekat ini.”
“Kamu harus tahu apa yang diinginkan bapak dan ibumu. Dia ingin anaknya bisa selesai S1-nya. Bisa mengejar mimpi dan cita-citanya. Betapa bangganya ibumu ketika ia cerita padaku, kalau anak pertamanya bisa melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi dengan biaya sendiri tanpa harus membebani orang tua. Pendidikan tinggi di kampung kita itu barang langka Gie. Ibu dan bapakmu bangga kamu bisa menjadi harapan keluarga. Lihat adikmu yang masih sekolah. Kamu masih harus membantu biaya sekolahnya.” Cerita Endi padaku. Aku pun tak sanggup menahan airmata mendengarnya.
Tiba-tiba teringat wajah ibuku yang terlihat lelah membesarkan anaknya. Teringat setiap kali aku pulang ke rumah ia selalu mencium kening dan pipiku. Teringat wajah bapak yang mulai menua dan berkurang produktifnya. Aku tak sanggup lagi menahan tangisku disaksikan laut, mentari dan langit senja. Endi mendekapku kencang. Ia sangat tahu seperti apa perasaanku.
“Maaf sobat! Aku hanya ingin kamu menjadi setegar karang yang diterpa ombak. Aku ingin kamu seperti elang yang terbang di angkasa sana yang tak pernah surut untuk turun meski angin kencang menerpanya. Kamu pahlawan buat keluargamu. Aku bangga punya sahabat sepertimu.” Lanjutnya membesarkan hatiku.
Aku sela air mataku, aku tatap matanya, lalu kukatakan, “aku juga bangga punya sahabat sepertimu, yang sangat peduli dan mengerti perasaan sahabatnya”. Jawabku sambil aku balas dekapannya.
“Kalau kamu bisa penuhi apa yang orangtuamu inginkan dan membuat mereka bangga, jangankan satu. Empat sekaliguspun mereka pasti akan mengiyakan!”
“Ah.. bisa aja.” Sela ku. Aku hanya tersenyum. “Ibu sebenarnya sih mengizinkan aku menikah. Tapi ya itu tadi, betul katamu. Ibu khawatir kuliahku berhenti ditengah jalan. Dia ingin aku selesai kuliah dulu.”
“Tapi kamu belum sampai jauh dengan gadis itu kan?” Tanya Endi.
“Maksudmu?”
“Eee... ee.. Nggak pacaran kan?”
“Astagfirullah! Ya nggak Ndi! Kamu kayak baru kenal aku aja!” Tegasku sambil melotot.
“Maaf, maaf! Aku hanya khawatir aja! Tapi dia tahu perasaanmu?”
“Enggak!” jawabku sambil menggelengkan kepala. “Cuma kamu, Ibu dan Bapak yang tahu tentang perasaanku ini! Dan aku gak akan mengungkapkan perasaanku ini kecuali dengan wanita yang sah menjadi istriku.” Tegasku.
“Dia akhwat teman satu fakultas.” Lanjutku bercerita. “Setiap kali kuliah aku pasti ketemu dia. Entah dia duduk di depan. Entah dia duduk di belakang. Itu yang menyiksa perasaanku. Aku coba fokus pada pelajaran. Tapi tetap saja aku gak bisa menghilangkan perasaan ini. Aku coba untuk rajin puasa. Bahkan puasa daud. Bahkan aku sering bangun malam. Menangis. Mengadukan semuanya pada Allah. Tetapi belum tampak Allah memberikan jawabannya padaku. Aku semakin disiksa dengan perasaanku karena setiap hari harus bertemu dengan dia di kampus.”
“Ck.. ck.. ck..,” gerutu Endi sambil menggelengkan kepala. “Itu manusiawi Gie. Bukan hanya kamu. Pemuda di seluruh dunia juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Allah sedang mengujimu. Apakah kamu sanggup menjaga kehormatan dan kesucian dirimu, sampai kamu sabar dan Allah memberikan pertolonganNya. Coba kamu sibukkan dirimu dengan hal-hal yang positif dan berusahalah pelan-pelan untuk melupakannya.”
“Aku sudah coba dengan memadatkan agenda dakwahku di luar jam kerja dan jam kuliahku. Tapi kalau setiap kali kuliah ketemu dia gimana aku bisa melupakannya? Apa aku berhenti kuliah saja?”
“Gie...! Gie...! Baru aku bilang. Ingat ibumu yang sangat ingin kamu selesai S1. Coba setiap kali kamu ingat dia, hadirkan wajah ibumu. Perasaan itu adalah fitrah manusia. Allah sedang mengujimu. Kalau kamu sabar untuk tetap menjaga kesucian dirimu untuk tidak terjerumus kepada hal-hal yang Allah tidak ridhai, Allah pasti akan memberikan pertolonganNya padamu. Kamu ingat firman Allah di surat Al-Baqarah 153,
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Astagfirullahaladzim, gumamku dalam hati. Ya Allah ampuni aku yang tidak bisa sabar menghadapi ujianMu ini.
Aku peluk erat Endi, dan aku katakan lirih ditelinganya. “Benar Ndi! Terimakasih nasehatmu. Kamu selalu menguatkanku saat aku lemah.”
“Aku sahabatmu Gie. Aku bisa pahami itu.”
“Oya Gie,” endi melepaskan pelukannya. “kalau seandainya Ibu dan bapak merestuimu untuk menikah. Apa gadis itu juga suka sama kamu? Dan apa dia mau sama kamu?”
Glek!
Aku terdiam beberapa detik.
“Iya juga. Apa dia mau sama aku ya?”
“Nah, kalau dia mau sama kamu, belum tentu juga siap untuk nikah. Masalah lagi!”
Tambahnya lagi.
Aku diam terbengong. Sepertinya ada burung gagak yang menyambar kepalaku.
“Hehehe.. koq bengong! Nah itu artinya kamu gak usah terlalu dibawa perasaan. Kalau itu juga gak jelas! Ya sudah!
“Sebentar lagi magrib, ke masjid yuk!”
“Ayo” jawabku pendek.
Sepanjang perjalanan ke masjid aku coba merenungi kata-kata terakhirnya. Benar juga, kenapa harus aku merasa tersiksa dengan perasaanku. Aku juga tidak tahu apa akhwat itu bersedia menikah denganku.
***
Ba’da Magrib kami putuskan untuk pulang. Kami membawa kendaraan motor dari rumah. Karena memang jarak pantai beberapa kilo dari rumah. Aku yang berada di depan membawa motornya dan Endi berada di belakang aku bonceng.
Setelah selesai shalat magrib dan sepanjang perjalanan aku merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada orang yang membuntuti kami setelah keluar dari masjid. Aku merasa seperti punya janji terhadap seseorang. Tetapi aku lupa janji apa itu.
“Gie, kapan balik lagi ke Tangerang?” tanya Endi coba memecahkan keheningan di perjalanan.
“Besok pagi. Insya Allah.”
“Berarti ini kebersamaan kita yang terakhir?” Mimiknya sedikit kecewa
“Insya Allah pasti kita ketemu lagi.” Jawabku mencoba mengobati kecewanya.
“Ndi, kamu liat orang yang naik motor dibelakang kita nggak? Kayaknya buntutin kita dari tadi.”
“Yang mana? Nggak ada siapa-siapa koq!” Tegas Endi sambil memperhatikan kebelakang
“Liat di kaca spion. Pakaiannya serba hitam.”
Sssiiittt...
Aku hentikan kendaraan dan coba menoleh kebalakang. Dia, pria berpakaian hitam itu juga ikut berhenti dengan kendaraannya. Hatiku menjadi gelisah. Ada perasaan takut yang tiba-tiba menghantuiku begitu dahsyat.
“Gie, kamu lihat apa sih?”
“Lihat dibelakang kita. Kendaraan itu juga ikut berhenti. Sepertinya memang ada sesuatu yang ia inginkan dari kita.”
“Apa? Aku nggak lihat apa-apa Gie?”
Aku tidak peduli apa tanggapan Endi. Tapi aku merasa sangat takut sekali. Aku tancap gas dengan kecepatan yang tinggi! Aku ucapkan kalimat tauhid sepanjang perjalanan.
“Laa ilaha ilallah... Laa ilaha ilallah”
“Gie.. Pelan-pelan!” Teriak Endi.
Aku tidak peduli dengan teriakan Endi. Aku perhatikan kaca spion, sepertinya dia mengimbangi kecepatanku. Aku tambah kecepatanku. Dia semakin mendekat dibelakang. Aku semakin takut tidak karuan. Aku ambil kanan mendahului beberapa kendaraan. Sesampai ditikungan, tiba-tiba muncul truk Fuso dari arah berlawanan. Dan aku tak dapat menghindari truk-fuso itu dengan kecepatan kendaraanku yang tinggi.
Endi berteriak, “GIEE...! AWAS...!”
Dan... DAR...!
Kendaraan kami menabrak truk Fuso itu. Endi terlempar jauh, dan aku terjatuh masuk kedalam kolong Fuso itu.
SSS...!
Tubuhku terasa panas seperti terbakar. Remuk seperti ada yang meremas.
“Gie... gie..” samar-samar terdengar suara Endi memanggilku
HE... AH...! HE... AH...! HE... AH...! Nafasku tersengal-sengal.
Tiba-tiba aku melihat sosok pria yang membuntuti kami tadi. Dia turun dari kendaraan dan berjalan kearahku. Semakin dekat. Semakin besar. Semakin seram. Aku tak dapat melihat wajahnya secara jelas. Aku semakin takut. Aku tersadar ternyata dia adalah Izrail. Malaikat Maut. Dia mendekatiku dan menggapai tubuhku yang remuk.
Dan tiba-tiba, semuanya menjadi gelap!
Kisah ini hanya fiktif semoga ada hikmahnya

tangisan sehat dalam nelaian-nya

Selasa, 24/05/2011 08:54 WIB | Arsip | Cetak
ilustrasi
Di rumah sakit secara tak sengaja, kami melihat sekumpulan orang yang tengah mengerubuti seorang kakek, ternyata kakek tersebut sedang bercerita duka bahwa kondisi sang istri mengalami penyakit ‘langka’, yang mana harus menangis sebagai obatnya. Namun si nenek tetap belum bisa menangis meski telah diupayakan cara-cara tradisional dan obat dari dokter, yang keluar dari mata terkadang adalah tetes darah atau seperti nanah, naudzubillahi minzaliik.
Menangis dalam arti keluarnya air mata sebagai ungkapan hati ternyata adalah aktivitas menyehatkan, bahkan semua bayi yang baru lahir selalu ‘dinantikan’ tangis pertamanya sebagai tanda organ pernafasannya telah berfungsi dengan baik.
Dalam sebuah tulisan Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim—Sehari Di Kediaman Rasulullah SAW, Dari Anas bin Malik radhiallaahu’anhu, ia berkata, “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan menciumnya.” (HR. Al-Bukhari)
Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma’ binti ‘Umeis radhiallaahu ‘anha —istri Ja’far bin Abi Thalib— menuturkan, “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja’far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja’far?” Beliau SAW menjawab, “Sudah, dia telah gugur pada hari ini!” Mendengar berita itu kami pun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata, “Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja’far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.” (HR. Ibnu Sa’ad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita bahwa tangisan adalah suatu hal lumrah dalam pengungkapan kasih sayang. Ketika air mata Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam menetes menangisi gugurnya para syuhada tersebut, Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallaahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda menangis?” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab,“Ini adalah rasa kasih sayang yang Allah Ta’ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta’ala hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari)
Ketika air mata Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf radhiallaahu ‘anhu bertanya kepada beliau, “Apakah Anda juga menangis, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menjawab,“Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari)
Ibnul Jauzi dalam bukunya, Samudera Air Mata juga menggoreskan pesan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka…"di hadits yang lain beliau SAW juga bersabda tentang sepasang mata yang takkan tersentuh api neraka, yaitu mata yang senantiasa menangis di waktu malam karena takut kepada Allah, dan sepasang mata yang menjaga pasukan fi sabilillah di waktu malam.
Namun, meskipun ada jaminan indah seperti itu, tak banyak orang yang menempuh jalan keselamatan tersebut. Kebanyakan manusia lebih memilih tenggelam dalam hingar bingar dunia yang fana dan melalaikan. Alangkah beruntung umat muslimin yang telah diberitakan tentang keselamatan diri karena Rahmat-Nya atas air mata taubat kala penyesalan diri sepanjang waktu. “…Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur [24] : 31)
Demikian pula momen berbagi hikmah yang dicurahkan oleh sisterku, Ummu Fatma, beliau di hari cerah itu mengingatkan akan pentingnya kesehatan jiwa raga, termasuk kesehatan mata kita. Bahwa di depan komputer dan duduk terus-menerus, juga ketika bekerja di rumah dengan tugas yang memang menumpuk, kondisi jantung, tekanan darah, dan memori serta daya konsentrasi kita akan berubah-ubah. Maka saat jeda waktu sholat, beliau sarankan pula untuk memiliki ‘stok’ camilan sehat yang dinikmati usai kewajiban sholat, lima makanan penting itu adalah kenari, popcorn, coklat murni, buah-buahan (bisa juga mencampur beberapa jenis buah disiram susu), serta segelas teh hijau plus madu. Dan tidaklah melewatkan hari tanpa tetes air mata, terutama ketika bersujud kepada-Nya atau saat mengalunkan ayat-ayat-Nya tatkala kita merasakan bahwa usia diri ini hampir berakhir.
Di negara-negara maju pun sudah ada ahli ‘air mata’, Bahkan, para ahli juga percaya kalau menangis bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin. "Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata," kata Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University. Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari Amerika, air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon penyebab stress sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi. Selama dan setelah menangis kita akan menarik nafas dalam-dalam sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat. Hal ini akan membuat mental dan fisik terasa lebih kuat. Selain itu, si air mata bermanfaat untuk mencegah dehidrasi pada membran mata, membunuh kuman atau bakteri yang masuk ke mata, mengeluarkan racun-racun, serta menghindari depresi. Subhanalloh…
Ummu Fatma berkisah bahwa saudarinya yang tampak tenang dan tetap jelita di usia manula tidak pernah menunjukkan kesedihan dan air mata di hadapan orang lain. Meskipun betapa berat ujian-Nya yang harus diemban, bahwa anak-anak yang telah dirawat dan dibesarkannya, satu-persatu diambil kembali ke haribaan-Nya, jua sang suami tercinta telah berpulang sekian tahun lalu. Namun, “rahasia” air mata saudari kita itu adalah bercucuran di kala mengadu ke hadapan Sang Pencipta. Hanyalah Allah ta’ala tempat kita bersandar, tempat mengadu dan tempat memohon segala kekuatan diri.
Hingga saya amat tersentuh dengan kalimat penutup yang merupakan pesan dari saudari Ummu Fatma tersebut, bahwa “Jangan pernah berputus asa akan rahmat Allah, ‘Saya ingin meninggalkan dunia dengan kelapangan dada, Allah di pikiran saya, Sunnah rasul-Nya di jantung saya, Al-Qur'an di lidah saya, dan sisa kucuran air mata di kelopak mata saya!’ Insya Allah,amiin…”. Amiin ya Robbi.
Air mata sering juga mengalir ‘tiba-tiba’ akibat sentuhan jiwa nan lembut. Satu cerita dari Mbak Tuti, seorang senior di masa kuliah bahwa dahulu ketika suatu malam, mendadak ia terbangun dan merasa ingin menangis. Setelah berwudhu dan qiyamullail, maka tangisnya makin menjadi. Ia merasakan kerinduan yang luar biasa kepada Ilahi, jua kepada saudarinya yang jauh. Entah datang dari mana, perasaan membuncah dan dada terus bergemuruh, hingga tangisannya terus-menerus membasahi sajadah, alhasil meski mata sembab, ada kelegaan hati yang amat menentramkannya. Subhanalloh! Paginya ketika ia menyampaikan rasa rindu dengan menelepon sang saudari di luar kota, ternyata gayung bersambut, saudarinya itu bilang bahwa semalaman ia memikirkan mbak Tuti pula, dan menguntai do’a serta merasakan kerinduan yang sama. Begitulah kekuatan do’a dalam ukhuwah nan indah, seolah antar-jiwa saling bicara.
Terdapat riwayat yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Sesunguhnya seorang mukmin tercipta dalam keadaan Mufattan (penuh cobaan), Tawwab (senang bertaubat), dan Nassaa' (suka lupa), (tetapi) apabila diingatkan ia segera ingat.”(Silsilah Hadits Shahih No. 2276).
Maka sebagai hamba-Nya yang senantiasa memetik pelajaran, janganlah kita bermalu meluapkan emosi dengan air mata di hadapan-Nya. Pelangi peristiwa sehari-hari ada kalanya senang, susah, tawa dan sedih. Justru kesulitan menangis ternyata membuahkan penyakit. Dan jangan pula kita ikuti tangisan palsu para tokoh drama atau sinetron, sebab tangisan yang pura-pura tentu tak akan melegakan hati serta malah menjatuhkan harga diri.
Alangkah mirisnya melihat peristiwa Miss X yang mondar-mandir ‘menjual air mata’ agar dikasihani banyak orang, cobaan hidup dijadikannya sebagai sarana memelas dan mengemis kasih tanpa memandang kehalalan rezeki. Padahal satu-satunya tempat kita memohon kasih sayang adalah Sang Pemilik Jiwa. Seorang saudariku, Ummu Hasan juga pernah berbagi pesan bahwa sebagai sikap meneladani baginda Rasulullah SAW, air mata yang mengaliri wajah kita hendaklah merupakan air mata taubat atau penyesalan, bersumber dari ketulusan hati, memang hati yang lunak merupakan nikmat anugerah-Nya, bersujud pada-Nya memohon ampunan dan bertekad tak mengulangi dosa nan lampau. Serta ‘mumpung’ masih muda, berpeluh dan berair mata deras adalah hal biasa dalam berjuang, jangan sampai di masa tua malah menyesali diri yang tidak mengoptimalkan kualitas usia muda. Perbanyak menangis di masa hidup dengan tetap diiringi rasa optimis bahwa cita-cita esok hari akan dapat diraih atas izin-Nya, jangan sampai menangisi diri di hari perhitungan kelak akibat terlupa bermuhasabah. Terima kasih duhai Ilahi, air mata kami ternyata adalah anugerah-Mu yang amat besar.
Seorang mukmin dengan taubatnya, berarti telah mewujudkan makna salah satu sifat Allah Subhanahu wa ta'ala, yaitu sifat yang terkandung dalam nama-Nya: Al-Ghaffar (Dzat yang Maha Pengampun). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman, yang artinya, “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap di jalan (petunjuk) yang benar.” (QS. Thaha [20] : 82).

mujahid muda bertameng al quran



Entah mengapa, aku benci mereka, mungkin karena kedua adik perempuanku mereka siksa dan bunuh secara keji di desa kami. Atau mungkin karena ayahku mereka siksa dan tangkap bertahun-tahun lalu di desa kami. Atau yang paling memungkinkan, karena mereka membantai seluruh ibu-ibu di desa kami, termasuk ibuku! Intinya aku membenci mereka dengan sejuta alasanku.
Merekalah yang selama ini senang akan segala penderitaan kami, merekalah yang selalu mencari-cari alasan untuk menyiksa, membunuh, memperkosa, atau merampas barang-barang kami. Mereka itulah Kaum yang telah Allah kutuk dan murkai. Mereka Yahudi! Dan dengan segala sifat dan keburukan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Kini aku akan membalas, aku dan dua kawanku akan membalas perbuatan mereka.
Kami berencana melakukan suatu hal yang pasti akan membuat setidaknya kesal salah seorang tentara laknat itu, kami tahu, mungkin tidak akan berpengaruh banyak bagi perlawanan ini, tapi kami tahu, itulah yang mereka sangat benci dari negri kami, "Anak-anak yang sangat nakal dan kurang ajar!" itu kata mereka.
Kami tidak sembarang memilih target, kami telah memantau, menilai dan mengerjai mereka puluhan kali. Maka kami tahu sekarang, kami harus mengincar tentara berpangkat tinggi agar mendapak efek yang luar biasa besar. Tidak sulit bagi kami yang bertubuh kecil untuk bergerak tanpa terlihat. Kami bertiga telah terbiasa puasa sehingga badan kami kurus dan gesit.
Rencana kami adalah mempermalukan salah seorang perwira tentara itu dengan membakar celananya tepat di bawah tempat duduk santainya. Ia adalah Komandan resimen yang berkemah di dalam kota. Setiap pagi kerjanya hanya mengamati para perajuritnya berbaris dan berteriak menyuruh mereka membersihkan kota dari puing-puing bekas pemboman kota tersebut. Kami tahu jadwal ia duduk di kursi malasnya itu, dan kesempatan datang hari ini, bahan-bahan untuk melancarkan misi pun telah terkumpul.
Pagi ini, sebelum Sang Komandan dan pasukannya bangun, seusai sholat Subuh, kami mengendap-endap ke perkemahan kemudian meletakkan bahan-bahan di bawah kursi Sang Komandan. Lalu kami pun pergi bersembunyi. Tugaskulah untuk memastikan misi ini berjalan dengan lancar. Maka kedua kawanku, Abdullah dan Amar, segera pergi untuk sembunyi. Sementara aku sembunyi tak jauh dari kursi Komandan untuk menyulut api pada kain panjang yang kami setengah kubur di pasir yang berhubungan dengan kursi Komandan.
Setelah setengah jam menunggu, salah satu pasukan pun bangun dan mulai membangunkan seluruh tentara kecuali Komandan. Tak lama kemudian sambil berteriak dalam bahasa Ibrani Sang Komandan berteriak-teriak. Pasukan pun segera berkumpul di depan tenda Komandan dalam keadaan berbaris. Sekitar 30 jumlah mereka. Maka dengan bismillah aku memulai aksi. Menyaksikan apiku merambat dengan cepat melalui kain, jantungku berdegup keras.
Tak lama aku mendengar seseorang berteriak, tak salah lagi itu Sang Komandan pasukan. Tanpa sadar aku pun tertawa, yang sebenarnya dapat membahayakan diriku, namun aku tidak tertawa sendiri. Para pasukan resimen itu pun tertawa melihat Komandan mereka tersulut api dan melompat-lompat memegangi celananya yang hangus terbakar. Setelah api di celananya padam dalam beberapa detik. Sontak Sang Komandan berteriak dan seluruh pasukan berhenti tertawa, karena aku yang tidak mengerti bahasanya, aku tetap tertawa, sehingga seluruh pasukan dan Sang Komandan melihatku di tempat persembunyian. Sang Komandan berteriak lagi dan seluruh pasukan terlihat akan mengejarku, dengan panik aku pun segera berlari ke arah dua temanku bersembunyi. Aku berteriak, "Abdullah, Amar, Lari!"
Mereka pun segera bangkit dan berlari, tiba-tiba aku mendengar serentetan tembakan yang memekakkan telinga kecilku, lalu kulihat di depanku, kedua kakak beradik temanku itu jatuh terjerembab dengan tak kurang selusin luka tembak di punggung mereka masing-masing. Aku terpana dan berhenti berlari.
Sekali lagi aku mendengar teriakan Komandan dan suara tembakan terdengar, kali ini hanya satu tembakan. Segera kurasakan kakiku seperti terbakar, aku tertembak. Kakiku seperti patah dan lumpuh. Sakitnya tak pernah kurasakan. Aku pun terjatuh, tak lama kemudian muncul di atasku tiga bayang-bayang tentara. Salah satunya adalah Komandan yang kami sulut tadi. Mukanya merah bukan main. Ia memaksaku berdiri. Kemudian meninju perutku dengan keras. Berkali-kali. Aku sudah tak bisa berteriak, aku ingin menangis, lagi, dua temanku tewas di tangan mereka. Kali ini di depan mataku. Aku terus menerus dipukul sehingga aku pingsan.

Ketika terbangun aku berada di ruangan ini. Bersama seorang tua yang sudah lumpuh. Aku bertanya padanya, "Di mana ini?" Ia menjawab dengan senyum tulus, "Ini di rumah, karena kau tak mungkin meninggalkannya lagi, sekolah kalau kau mau belajar, dan penjara jika kau ingin menganggapnya begitu."
Aku tak mengerti kata-kata bapak tua itu, tapi aku tahu ia benar soal penjara, karena aku melihat besi-besi penghalang yang menghalangiku keluar ruangan itu. Berhari-hari aku hanya tidur dan melamun. Aku makan berdua dengan bapak tua itu, kami diberi jatah setengah potong roti basi yang harus kami bagi berdua.
Aku sudah beberapa hari tidak sholat, karena aku tidak tahu bagaimana aku harus berwudhu dengan air kami yang hanya segelas itu? Namun kulihat bapak tua itu selalu melakukan gerakan-gerakan seperti sholat dengan duduk setiap waktu sholat.
Akhirnya hari itu, setelah waktu Dzuhur yang aku tahu sudah lewat beberapa jam yang lalu, aku bertanya padanya, "Kek, bagaimana caranya sholat tanpa air?"
Ia menjawab, "bertayamumlah Nak."
"Bagaimana caranya?" aku bertanya.
Maka ia mengajariku cara-cara bertayamum dengan debu pada dinding penjara. Mulai hari itu aku pun sholat dengan bertayamum dan berjama'ah dengan kakek itu setiap waktu sholat tiba.
Setelah aku rasa sebulan aku di sel itu, seorang tentara datang dan membuka pintu sel kami. Ia menyuruhku untuk mengikutinya dengan bahasa yang aku kenal. Aku pun pergi mengikutinya. Kami pergi melalui sebuah lorong panjang yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu seiring aku lewat, aku mendengar teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu tersebut, aku merinding dan takut.
Sampailah aku pada suatu pintu di mana tentara yang membawaku itu pun berhenti. Ia memerintahkanku untuk masuk kedalam ruangan. Kemudian aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kosong tersebut. Sang tentara berbalik keluar dan mengunci pintu tersebut. Sepuluh menit kemudian datanglah seorang tentara berwajah muram dengan tas besar dan terlihat berat membuka pintu dan duduk di kursi di depan meja di tengah-tengah ruangan itu.
Ia bertanya padaku pertanyaan dalam bahasa ibuku, "Siapa namamu Nak?"
Aku menjawab, "Umar!"
Kemudian ia bertanya lagi, "Di mana rumahmu?"
"Kalian menghancurkan rumah dan seluruh desaku dan desa tetanggaku 2 tahun yang lalu!" jawabku marah.
"Lalu kau berniat membalas itu dengan membentuk kelompok-kelompok pemuda yang menggangu tentara kami di lapangan?"
Aku berkata sambil setengah tertawa, "Huh, kalian pikir kami sebanyak itu eh? Satu-satunya kelompok yang kubentuk hanya beranggotakan tiga orang dan kalian telah membunuh dua di antaranya sebelum aku tertangkap, dan kini satu-satunya anggota yang tersisa hanyalah seorang anak muda pincang yang ada di depanmu ini."
Tentara itu marah dan menamparku dengan keras sambil berteriak, "Jangan Bohong! Katakan! Di mana teman-teman kecilmu yang brengsek itu?"
Aku hanya terdiam sambil meringis dan berzikir. Dia marah dan menendangku berkali-kali setiap tendangan aku bertakbir keras. Ia semakin marah dan melakukan itu terus menerus hingga ia lelah.
Kemudian berkata, "Mungkin besok kau mau jujur, tapi hari ini aku ambil oleh-oleh darimu agar kau ingat untuk jujur esok."
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuh penjepit besar dari dalamnya, ia mendekatiku dan menarik kakiku yang lumpuh. Kemudian ia menjepit kuku ibu jari kakiku dan mulai menariknya. Karena rasa sakitnya akupun berteriak dan hampir lupa menyebut nama Allah. Aku berteriak sekeras-kerasnya karena sakitnya bukan main. Ia mencabut kuku jari kakiku dengan penjepit tersebut. Aku pun menangis.
Ia berkata, "Itulah akibatnya jika bermain-main dengan kami anak kecil!"
Kemudian ia pun pergi dan masuklah tentara yang mengantarkanku tadi dan menyuruhku untuk segera berdiri dan mengikutinya lagi. Sambil meringis menahan sakit pada ibu jari kakiku akupun berdiri dan mengikutinya pergi. Keluar ruangan dan menyusuri koridor tadi yang masih dipenuhi teriakan dan rintihan dari balik pintu-pintu di kanan kirinya.
Tentara yang membawaku ini membawaku ke sebuah sel yang lebih besar dari selku yang pertama, di dalamnya ada empat orang sedang duduk. Sang tentara menyuruhku masuk setelah membuka sel tersebut, dan segera menguncinya begitu aku masuk.
Seorang pria dan tiga orang pemuda yang kukira umurnya hanya berbeda dua tahun dari umurku sekarang. Itulah penghuni sel baruku ini. Pria yang paling tua mendekatiku dan merobek bagian lengan bajunya dan mengikatnya di ibu jari kakiku yang kukunya sudah tidak ada dan masih mengucurkan darah itu.
Ia bertanya, "Apa yang mereka tuduhkan atasmu?"
"Mereka menuduhku membuat kelompok-kelompok anak kecil yang mengganggu pasukan mereka di lapangan," jawabku lemah.
"Apakah kau melakukan itu semua?" tanyanya lagi.
Aku menjawab, "Yang kulakukan adalah bersama kedua temanku mengerjai Komandan mereka, hingga mereka membunuh kedua temanku itu".
Ia berkata, "Mereka memang selalu menuduh kita berlebihan, mereka hanya ingin menyiksa kita, lebih baik kalau kau tutup mulut dan berzikir untuk menghindari siksaan. Bacalah Al-Qur'an dalam hati agar menenangkan."
"Aku belum bisa membaca Al-Qur'an dan belum hafal banyak surat-surat pendek, ayahku ditangkap ketika aku kecil dan ibuku meninggal saat pembantaian di desa kami, aku selamat karena saat itu sedang menginap di rumah tanteku di kota," jawabku.
"Kalau begitu, belajarlah denganku dan ketiga anakku, Faiz, Zaid dan Yahya. Dan aku Musthofa," katanya.
"Kami berhasil menyelundupkan Al-Qur'an ke sini," lanjutnya lagi.
"Baiklah, aku akan belajar darimu, namaku Umar!" kataku.
Sejak itu aku sholat, makan, dan belajar Qur'an dengan ustadz Musthofa dan ketiga anaknya. Ustadz Musthofa ternyata memang seorang guru mengaji dan sudah hafal 30 juz Al-Quran di luar kepalanya. Ia pun membaca dengan lembut dan tartil. Selama beberapa bulan aku belajar bersamanya.
Hingga suatu hari setelah belajar Al-Qur'an aku bercerita tentang hari kedatanganku ke penjara ini. Dan aku bertanya pada ustadz Musthofa tentang pria tua yang satu sel denganku pertama kali, dia menjawab dengan berseri-seri, "Dia adalah guru kami semua di penjara ini, ia adalah inspirasi anak-anak muda kita, ia adalah Sheikh Ahmad Yassien, ia akhirnya dibebaskan belum lama ini, alhamdulillah."
Aku hanya menganguk-angguk tidak mengerti pengaruh pria tua itu terhadap orang-orang di penjara ini. Setahun sudah aku belajar Qur'an dengan ustadz Musthofa. Dan dari hasil didikannya akupun kini tidak terlalu banyak mengeluh dalam ruang interogasi, bahkan aku tidak menjawab apapun pertanyaan-pertanyaan palsu mereka. Biarpun mereka mencabut beberapa lagi kuku-kuku kakiku, aku pun tidak terlalu merasa sakit, karena aku tahu aku memiliki obatnya, yaitu Al-Qur'an, yang semakinku baca semakin berkurang rasa sakitku. Hingga pada suatu ketika, di ruang interogasi. Pria yang biasa menyiksaku kini menampilkan wajah senang yang luar biasa.

Aku tidak takut lagi terhadapnya, karena sudah hampir habis kuku-kuku di jari tangan maupun kakiku. Namun dia berwajah senang dan aku agak mengkhawatirkan hal itu, karena apa pun yang membuatnya senang adalah berkaitan dengan kesakitanku. Dia berkata, "Aku membawa bukti sekarang anak kecil."
"Tiga orang bukti dan saksi yang kami tangkap melakukan keusilan yang serupa dengan yang kau lakukan pada pasukan kami di lapangan."
"Mereka anak kecil, dan mereka mengaku berasal dari desa yang sama tempat kau tinggal dulu," katanya.
"Aku akan menyiksa mereka di depanmu sampai kau mengaku bahwa kaulah pemimpin mereka, atau mereka mengaku di bawah kepemimpinanmu."
Aku hanya diam. Lalu masuklah tiga anak kecil yang umurnya lebih muda sdariku sekitar 3 tahun. Mereka semua berwajah ketakutan. Sang penyiksa mengeluarkan belati dari dalam tasnya dan mendekati ketiga anak kecil tersebut. Aku hanya melihat dari kursiku dalam keadaan terikat erat.
Ia mengitari mereka satu kali dan bertanya kepada yang paling kanan, "Siapa namamu?"
Anak kecil itu dengan gemetar menjawab, "H...Hasan."
"Apakah kau mengenali kakak ini eh, Hasan?" tanya Sang penyiksa.
Hasan menjawab, "A...Aku tidak mengenalnya."
Lalu Sang penyiksa dengan marah mencengkeram rambut Hasan dan menempelkan belati pada pipinya, dan mulai mengiris pipi tersebut sambil berkata, "Berani berbohong eh?"
Hasan berteriak kesakitan. Aku miris mendengarnya namun tetap diam sambil berdoa untuk kekuatan Hasan.
Kemudian Sang penyiksa melepas Hasan setelah kedua pipinya tergores luka dalam dan mengucurkan darah. Hasan tetap menangis.
Sang penyiksa berdiri di tengah kedua anak kecil lainnya sambil mengamati mereka bergantian.
Kemudian menatapku dan berkata, "Belum mau mengaku kalau mereka anak buahmu eh? Bocah kurang ajar!"
Aku diam dan berharap ia tidak menyiksa kedua anak lainnya.
Namun harapanku pupus, ia malah semakin memperparah siksaan terhadap kedua anak lainnya, hingga hatiku miris dan tanpa sadar aku berteriak, "Berhenti!"
"Aku memang pemimpin mereka, aku yang memerintahkan mereka mengganggu pasukanmu," kataku berbohong.
Ia tertawa. "Ha ha ha, kini kau mengaku setelah melihat anak buahmu disiksa, padahal aku baru saja mulai bersenang-senang," katanya bengis.
"Tapi tidak apa, aku masih banyak waktu untuk menyiksa mereka, tapi kau, kau akan kami hukum mati besok, karena pengakuanmu ini," Sang penyiksa berkata lagi.
Lalu ia keluar dan menyuruh sorang tentara membawa kami berempat menuju sel kami dan bertemu dengan ustadz Musthofa.
Aku menceritakan segala kejadian yang berlangsung di dalam ruang interogasi dan ia berkata, "Subhanallah, kau telah ditetapkan untuk syahid demi menolong anak-anak terlantar ini Nak. Insya Allah Jannah Firdaus akan menantimu," aku hanya mengangguk dan mencari posisi untuk tidur malam itu. Sebelum tidur aku menulis memo. Lalu aku mengulang-ulang hafalanku sambil berbaring.
Pagi itu Umar bangun dan terlihat tenang sekali, seusai sholat shubuh berjama'ah, ia dan kedelapan penghuni sel yang sempit itu mengaji bergantian. Dengan hanya satu mushaf dan dengan penerangan yang sangat minim.
Sebelum matahari terbit, datang tiga orang tentara Yahudi membuka sel dan menarik Umar. Mereka membawa Umar pagi itu. Hingga siang hari, tidak ada tanda-tanda kembalinya Umar.
Salah seorang penghuni sel itu, ustadz Musthofa, bertanya kepada tukang bersih-bersih yang selalu lewat sel mereka, "Ke mana anak muda itu mereka bawa pergi?" tanyanya.
Ia menjawab, "Mereka membawanya ke tengah lapangan dan menelanjanginya dan mengikatnya di belakang kuda, sambil memacu kudanya dan yang lain menembaki kaki pemuda itu dan ia diseret dengan cara seperti itu hingga ia tewas."
Ustadz Musthofa kaget dan kemudian berkata, "Innalillahi wainnailaihi raajiuun, sungguh kejam mereka," ia memberi tahu kabar ini kepada ketiga anaknya dan kepada ketiga anak kecil di sel mereka, dan mereka pun mendoakan Umar.
Siang itu, setelah mereka sholat dan makan, ketika hendak mengaji, mereka mencium aroma yang luar biasa wangi dan semerbak di seluruh ruangan, dan terutama wangi yang keluar dari mushaf yang mereka pegang, sungguh harum baunya, sampai ustadz Musthofa berkata, "Mungkin ini adalah aroma parfum saudara kita Umar, ia telah dijemput dan dimandikan bidadari hari ini, dan aromanya tercium hingga ke mari."
Hari itu, bumi kehilangan satu lagi mujahid tangguh, mujahid bertamengkan Al-Qur'an, mujahid muda yang berani, dan seorang Hafidz.

hati hati dengan si hati


“Pokoknya sakiiiiiit hati ini, sakiiit banget deh!”, keluhan seorang sahabat tatkala menceritakan prihal pengkhianatan seseorang yang dipercayainya. Mimik muka penuh kekesalan ditambah nada suara yang menandai rasa jengkel.
Juga kelunya lidah seorang ibu, berurai air mata dan ragam tanya dalam nuraninya, “Kenapa anak hamba yang dibesarkan dalam pendidikan agama yang baik, tetapi melakukan perbuatan zina dan sering berdusta, Ya Allah?”, ibu mana pun juga yang merupakan muslimah sholihat, pastilah merasa hancur hatinya tatkala memetik kenyataan pahit melihat anaknya ‘kumpul kebo’ berlumur kehinaan dan belum juga bertaubat pada-NYA.
Lain lagi kalimat bijak dari Mas Fulan, seorang brother asal daerah Jawa Timur, ia berkata, “Dulu sih sakiit sekali rasanya, ingin melampiaskan dengan amarah atau bahkan membunuh… Tapi Alhamdulillah, saya masih bisa mengontrol diri. Hati ini berkata ‘tidak, jangan emosi’…. Maka sekarang saya lega… Alhamdulillah sudah ikhlas…”, senyumnya ceria. Subhanalloh, padahal Mas Fulan itu mengalami kepahitan suatu peristiwa hidup, pengalamannya ketika pulang ke rumah memergoki istri tercinta tengah berselingkuh, pasangan selingkuhan itu adalah saudara iparnya sendiri! Maka tatkala Mas Fulan menceraikan si istri, adik perempuan Mas Fulan juga menjanda karena bercerai dengan suaminya tersebut. Tamparan yang luar biasa bagi keluarga mereka. Sempat trauma, begitulah kata Mas Fulan, lima tahun lebih ia merasa ketakutan membuat rencana berumah tangga kembali. Butuh waktu introspeksi diri, perlu lebih banyak pertimbangan yang matang, karena ia ‘takut’ hatinya terluka lagi.
Dua tahun lalu, Mas Fulan ‘sembuh’, berjumpa dengan pilihan hatinya dan membangun rumah tangga yang baru dengan optimis, Allah ta’ala pasti melimpahkan obat luka terbaik buatnya. Keberkahan mengiringi, saat ini Mas Fulan telah menggendong jundi nan lama diimpikannya. Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.
Memang si hati selalu jadi perbincangan sepanjang masa. Urusan hati berkaitan dengan cinta, benci, juga rindu dan sebagainya, dibahas tak pernah usai. Kedalaman hati seseorang tiada yang tau, kecuali Allah SWT. Dalam biografi dari Sufyan Ath-Thauree, Khalf ibn Tameem melaporkan bahwa ia mendengar Sufyan berkata: “Visi mata (apa-apa yang dipandang) seseorang bertujuan pada dunia fana, dan visi hati seseorang bertujuan untuk akhirat. Ketika seorang pria ‘melihat’ dengan matanya, ia sia-sia, (ia menilai sesuatu dari pandangan mata saja) tak bermanfaat. Adalah ketika ia melihat dengan hatinya, baik melihat seseorang yang disukainya maupun ‘melihat’ penilaian diri sendiri, ia memetik banyak manfaat.”
Kalau zaman sekolah dulu, sang ustadzku pernah berpesan seraya bercanda, “Ada tiga organ yang bicara…Wanita disebut cantik karena wajah dan penampilannya, si mata yang bicara. Wanita cantik karena cerdas, pandai dan rajin, itu otak atau akal pikiran yang berkata. Wanita cantik karena berakhlakul karimah, baik budinya, itu si hati berucap. Dan mata lebih cenderung memperturutkan nafsu, maka pertimbangkanlah kata hati, karena kebaikan budi pekerti lebih berharga.”Dan sebagaimana yang kita ketahui, kecintaan seseorang kepada Islam tentunya membuat selalu ingin memahami dan terus menggali ilmu-ilmuNya. Dengan berusaha makin memahami, maka akan terus berusaha mengamalkan rambu-rambuNya, dan wujud yang paling terlihat adalah akhlakul karimah, kepribadian hidup sehari-sehari. Itulah pancaran hati nan cantik.
Sufyan Ath-Thauree pun pernah mengatakan tentang ‘bukti kesabaran hati’. Tiga hal tanda engkau telah bersabar : Jangan bicarakan tentang musibah yang menimpamu, jangan diumbar prihal sakit dan lukamu, serta jangan memuji dirimu sendiri. Astaghfirrulloh, kebanyakan peristiwa keseharian diri ini masih susah untuk bersabar, sibuk ‘nyari tempat berkeluh kesah’, sulit menata hati padahal sudah sering mengingat akan si obat hati, sebagaimana firman Allah ta’ala, bermakna, “Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya.” (QS. Al-Hadid [57] : 16)
Si hati jelita dengan kelurusan niat dan kesyukuran, tentunya menampakkan sikap dan prilaku rendah hati dan ketulusan seseorang dalam menjalani detik-detik hidupnya. Wajah pun sumringah bahagia. Sedangkan hati yang dengki, iri, hingga berjibunnya penyakit hati, maka sikap yang tampak adalah rakus, tamak, doyan mengadu-domba, menebar fitnah, mencari celah ‘kemudahan mencapai tujuan’ dengan jalan apapun, berkhianat serta kesulitan untuk tersenyum.
Sebagaimana wasiat baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “…Ketahuilah, bahwa setiap raja memilliki daerah terlarang. Ketahuilah, bahwa daerah terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Ada secuil catatan tentang si hati…
Bilangan tahun adalah seperti pohon, bulan adalah dahannya,
Hari-hari merupakan cabang-cabangnya, jam adalah daunnya,
Dan nafas ibarat buahnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk taat kepada Allah,
Maka buah pohon itu akan baik, lezat dan murni manisnya
Siapa pun yang nafasnya digunakan untuk mendurhakai Allah,
Tentu buahnya akan jahat, busuk dan jelek
Waktu panen adalah pada hari kiamat
Yang pada saat itu buah akan ditampilkan,
Apakah itu manis atau asam
Ketulusan dan Tauhid adalah pohon dalam hati
Cabang-cabangnya adalah perbuatan
Dan buahnya adalah kenikmatan hidup selama ini
Kehidupan duniawi dan kebahagiaan abadi di akhirat
Buah tauhid dan ketulusan dalam kehidupan dunia adalah sama
Allah limpahkan berkah kepada hamba –Nya nan ikhlas
Balasan kebaikan berlipat ganda
Kemusyrikan, berbohong, dan kemunafikan juga pohon dalam hati
Buahnya adalah selama hidup tak tentram
Diliputi rasa takut, tertekan, kesedihan, dan sesak dalam dada
Kegelapan hati, dan di akhirat menelan az-zaqqum jua siksaan permanen
Allah ta’ala menyebutkan dua pohon tersebut dalam ayat-ayat cinta-Nya Surah Ibrahim."
“Ya Allah, yang selalu membolak-balikkan hati, mantapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan dalam ketaatan pada-Mu, amiin”. Wallahu a'lam bish-shawab.